BERITA Balitek DAS

BP2TPDAS Diseminasikan Hasil Riset Mitigasi Banjir Bandang ke BPDASHL

BP2TPDAS (Solo, 9/10/2017)_Mendukung keintegrasian dan kekuatan Kementerian Lingkuangan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (BP2TPDAS) kembali mengenalkan hasil riset kepada 24 Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung (Ditjen PDASHL). Kegiatan tersebut dikemas dalam Alih Teknologi Mitigasi Banjir Bandang yang dilaksanakan di Hotel Lorin, Solo (4-6 Oktober).

"Hari ini istimewa karena pada hari ini kita mengadakan alih teknologi (altek) mitigasi banjir bandang dimana pada hari ini, 7 tahun lalu yaitu tanggal 4 Oktober 2010 telah terjadi banjir bandang di Wasior Papua," kata Dr. Nur Sumedi, kepala BP2TPDAS saat memberikan sambutan, Rabu (04/10). Untuk memperingati hal tersebut, Sumedi mengajak kepada seluruh tamu undangan dan peserta yang hadir pada kegiatan teraebut untuk mengheningkan cipta selam 1 menit. Disadari bahwa pada peristiwa tersebut telah memakan korban sebanyak 158 orang tewas dan 145 orang masih luka-luka. "Banjir bandang merupakan salah satu bencana nasional yang juga menjadi prioritas nasional. Banjir bandang ini merupakan suatu peristiwa yang khas, yang sebetulnya bisa diminimalisir dampaknya," kata Sumedi. Lebih lanjut, Sumedi menyatakan bahwa Tim Peneliti BP2TPDAS Solo telah berhasil melakukan riset untuk mitigasi banjir bandang yang dianalisis dari aspek biofisik, sosial dan kelembagaan. Banjir bandang merupakan banjir yang terjadi karena intensitas hujan yang tinggi sehingga debit sungai membesar secara tiba-tiba dan melebihi kapasitas aliran serta membawa debris (batu-batu, batang pohon, tanah, lumpur dan semua material yang sebelumnya menyumbat aliran.

"Materi tersebut akan disampaikan dalam bentuk teori dan praktek. Mudah-mudahan apa yang disampaikan bermanfaat, mudah diikuti dengan baik dan bisa diadopsi sepenuhnya serta bisa dikembangan di tempat tugas masing-masing," tutupnya.

Di sisi lain, Ir. Yuliarto, JP., M.AP., Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalias DAS (Dir. PEPDAS) mendukung...... Selengkapnya

Keberadaan Hutan Belum Dianggap Penting Oleh Masyarakat di Luar Kehutanan

BP2TPDAS (Solo, 9/10/2017)_"Saat ini, hutan di Indonesia dianggap penting hanya oleh orang kehutanan, tetapi orang di luar kehutanan masih merasa bahwa hutan itu tidak terlalu penting," kata Dr. M. Saparis Soedrajat, S.Si., M.T., Kasubdit Pemolaan Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian (PEP) DAS, Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung (Ditjen PDASHL) pada saat menjadi narasumber pada Alih Teknologi Mitigasi Banjir Bandang di Hotel Lorin, Solo, Jum’at (06/10).

"Untuk itu, mulai saat ini kita harus berpikir landscape. Selain itu, kita harus segera mulai untuk melaksanakan sustainable forest," tambahnya.

Menurutnya, luas hutan minimal atau tutupan vegetasi permanen seharusnya 30% dari luas daratan yang ada. Apabila hutan ditebang sehingga luasnya kurang dari 30% maka akan meningkatkan laju sedimentasi yang akhirnya akan meningkatkan bencana. Hal ini juga menjadi indikator bahwa DAS dalam kondisi tidak sehat.

"Dalam konteks DAS, hutan berfungsi sebagai natural water resources infrastructure yang mempengaruhi rona wilayah secara menyeluruh, baik kemampuannya dalam penyediaan air, mempengaruhi daya rusak air, bahkan peran besarnya dalam membentuk iklim mikro," katanya.

Berdasarkan hasil penghitungan kapasitas tampung Taman Nasional Bogani Nani Wartanone di hulu DAS Bolango menunjukkan bahwa kemampuan hutan dalam menyimpan air lebih tinggi daripada waduk buatan seperti Waduk Gajah Mungkur.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa hutan merupakan green dam yang peran atau fungsinya tidak bisa digantikan waduk buatan," tegasnya.

Berdasarkan hal tersebut, Saparis menyatakan bahwa posisi pengelolaan DAS dalam pembangunan kehutanan sangat strategis. Pengelolaan DAS difokuskan pada daerah-daerah dengan curah hujan...... Selengkapnya

Hati-Hati Menyebarkan Berita di Media Sosial

BP2TPDAS (Solo, 04/10/2017)_Adanya perkembangan internet telah melahirkan media sosial (medsos). Media yang praktis, efisien dan efektif dalam menyebarkan berita atau informasi. Bahkam media ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang promosi produk-produk litbang. Namun, sebaiknya dalam pemanfaatannya, pengguna haruslah berhati-hati dan cermat dalam memilih dan menyebarkan berita.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Nur Sumedi, Kepala Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP2TPDAS) pada saat memberikan arahan pada rapat rutin bulanan yang dilaksanakan di Ruang Rapat BP2TPDAS Solo, Senin (2/10).

"Sekarang banyak berita hoax. Kita harus cermat dan berhati-hati. Kita telaah dan cermati dahulu. Apabila belum yakin kebenarannya, kita coba untuk tidak menyebarkan," Imbau Nur Sumedi.

Nur Sumedi menyadari banyak pengguna medsos yang langsung copy paste berita atau informasi, padahal belum tahu kebenaran informasi tersebut. Terkadang berita yang disebarkan merupakan berita negatif yang mengintimidasi atau memihak sepihak.

Pada kesempatan lain, Muhammad Rofiudin, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Jawa Tengah, yang menjadi narasumber dalam acara Pembahasan Pembentukan Pejabat Pengelola...... Selengkapnya

Untuk Mencapai Akreditasi, Pengelola OJS Harus Cermat dan Optimis

BP2TPDAS (Solo, 29/09/2017)_Jurnal terakreditasi merupakan impian bagi lembaga yang menerbitkan jurnal. Untuk mencapainya bukanlah usaha yang mudah. Perlu kerja keras dan ketelitian. Jurnal yang sudah terakreditasi, pada saat pengajuan kembali, statusnya bisa tetap terakreditasi ataupun tidak terakreditas begitupun sebaliknya. Ini bukanlah hal yang mustahil. Oleh karena itu, Pengelola jurnal atau Open Journal System (OJS) haruslah cermat dan tetap optimis.

Hal ini diungkapkan oleh Mukhammad Nurul Furqon, S.S., Kepala Sub Bidang Akreditasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat diundang menjadi narasumber di BAlai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP2TPDAS) di Solo, Rabu-Kamis (27-28 September 2017).

"Untuk mencapai akreditasi, yang terpenting adalah terindeks pada Scopus atau minimal Directory of Open Access Journals (DOAJ)," kata Furqon.

Furqon menjelaskan bahwa indeksasi DOAJ masih diakui oleh dua lembaga penilai akreditasi jurnal yaitu Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan LIPI. Bahkan Kemenristekdikti dan LIPI mendorong agar jurnal Indonesia terindeks di DOAJ nkarena DOAJ ini termasuk dalam indeks menengah atau sedang tetapi sifatnya hidup, open access dan tidak berbayar.

"Berdasarkan data per 29 Agustus 2017, peringkat Indonesia di DOAJ berada pada posisi 3 dunia, di bawah Brasil dan Inggris. Sebanyak 912 jurnal di Indonesia telah terindeks di DOAJ,”kata Furqon.

Namun Furqon menyayangkan bahwa jurnal yang diterbitkan dari lingkungan PT/Universitas lebih dominan dari Kementerian/Lembaga (K/L). Peringkat 1-30 yang terindeks DOAJ didominasi oleh...... Selengkapnya

Tingkatkan Pengelolaan Hutan Rakyat di Jateng, P3E Gandeng BP2TPDAS

BPPTPDAS (Solo, 19/09/2017)_Untuk meningkatkan pengelolaan hutan rakyat di Jawa Tengah (Jateng), Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion P3E (Jawa) jalin kerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS (BP2TPDAS) Solo menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Rakyat Berbasis Daya Dukung Daya Tampung di Provinsi Jawa Tengah, Ruang Rapat BP2TPDAS, Solo (19/09).

"Kondisi ekosistem regional Jawa sudah mengkhawatirkan terkait daya dukung daya tampung karena meningkatnya lahan kritis, degradasi sumberdaya, pencemaran, limbah berbahaya dan sampah. Kondisi ini terlihat dari penutupan lahan dan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH)," kata Dr. Sugeng Priyanto, MSi Kepala P3E Jawa.

Lebih lanjut, Sugeng menjelaskan bahwa IKLH tersebut mencakup indeks kualitas udara (30%), indeks kualitas air (30%) dan indeks tutupan lahan (40%). Sedangkan kondisi yang ada saat ini, luas hutan negara di Jawa sekitar 3.064.819 ha (24%) dan luas hutan rakyat 2.145.691 ha (16%), sehingga total luas hutan di Jawa sekitar 5.210.508 atau sekitar 40% dari luas P Jawa.

"Hutan rakyat memainkan peran penting dalam IKLH terkait fungsi hutan dan tutupan lahan. Dan juga bagi kesejahteraan petani hutan rakyat sendiri," tambahnya.

Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Joko Marsono, MSi mengingatkan bahwa hutan rakyat harus dikelola secara lestari dengan ...... Selengkapnya

Dengan Tradisi dan Religi, Masyarakat Girimulyo mampu menjaga Potensi Mata Air

BP2TPDAS (Solo, 14/09/2017)_Kebutuhan air semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Bahkan dengan adanya cuaca ekstrim, banyak wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan dan sulit untuk mendapatkan air yang bersih dan berkualitas. Hal ini berbeda dengan daerah Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Girimulyo, Pendoworejo dan Purwosari. Potensi mata air di daerah tersebut tetap terjaga meskipun musim kemarau panjang.

"Masyarakat Kecamatan Girimulyo mengenal istilah budaya bersih mata air (nguras sumber) dan sedekah mata air dalam bentuk sesaji. Budaya tersebut bermaksud menjaga kelestarian sumber mata air," kata Sudarmadji yang dikutip pada artikelnya pada Jurnal Penelitian Pengeloalaan Daerah Aliran Sungai (JPPDAS) Vol 1 No 1 April 2017.

Dalam artikelnya tersebut, Sudarmadji menyatakan bahwa masyarakat Kecamatan Girimulyo masih kental akan nuansa tradisi dan religi dalam budaya masyarakat. Faktor ini bisa menjadi kunci untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air yang ada.

"Pengelolaan sumberdaya air berbasis teknologi pada penerapannya membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Strategi yang bersifat sederhana dan mudah diterapkan menjadi penting untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya air terpadu, yaitu berbasis perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,"tegas Sudarmadji

Lebih lanjut, Sudarmadji menyatakan bahwa pengelolaan sumberdaya air terpadu perlu diterapkan untuk menjaga ...... Selengkapnya











PUBLIKASI

FILM



Berita Terkini