Strategi Edukasi, Kunci Keberhasilan Rehabilitasi Lahan di DAS Mahakam

Balitek DAS (Solo, 27/04/2017)_Untuk mendorong masyarakat berpartisipasi aktif dalam kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam maka diperlukan strategi yang tepat. Salah satunya dengan strategi edukasi, yaitu strategi yang berupa penguatan bimbingan kapasitas kelompok tani, penyuluhan dan pelatihan informasi dan keterampilan teknis RHL.

Hal ini diungkapkan oleh Faiqotul Falah, peneliti Balai Litbang Teknologi Pengelolaan (Balitek) DAS pada artikelnya yang berjudul "Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan dan Lahan Wilayah DAS Mahakam" dalam Prosiding Seminar Nasional Restorasi DAS, Agustus 2015.

"Selama ini strategi yang digunakan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan RHL di DAS Mahakam cenderung menggunakan strategi kekuasaan, yaitu dengan menggunakan iming-iming imbalan agar masyarakat mau terlibat," kata Fike, panggilan akrab Faiqotul Falah, Kamis (20/04).

Pada strategi kekuasaan tersebut, umumnya komitmen pelaksana terhadap keberlanjutan proses rendah. Ini menyebabkan durasi partisipasi menjadi singkat dan tidak berkelanjutan.

"Hasil strategi ini adalah perubahan perilaku sesaat, namun tidak menyebabkan perubahan kecenderungan sikap (attitude) yang memotivasi petani untuk terus melakukan RHL secara swakarsa," tegas Fike.

Hal ini terlihat dalam kegiatan RHL di DAS Mahakam. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut tergolong dalam partisipasi fungsional. Jenis partisipasi ini umumnya dilakukan secara berkelompok untuk mencapai sasaran, tetapi pelaksana tidak terlibat aktif dalam seluruh tahapan partipasi.

Berdasar hasil penelitiannya, dengan strategi tersebut menunjukkan rata-rata tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan RHL di DAS Mahakam dinilai masih berada pada level sedang. Tingkat partisipasi masyarakat tinggi pada tahap pelaksanaan dan perencanaan lokasi, sedang pada tahap perencanaan jenis dan pola tanam, rendah pada tahap monitoring dan evaluasi, serta sangat rendah pada tahap perencanaan anggaran

Fike menyadari bahwa tingkat partisipasi masyarakat sangat berpengaruh nyata pada kerbahasilan kegiatan RHL. Hal ini ditunjukkan dengan data bahwa lokasi RHL yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi umumnya ada kelompok tani yang aktif serta adanya bimbingan dari lembaga eksternal.

Berdasarkan hal tersebut, Fike merekomendasikan untuk meningkatkan keberhasilan RHL maka perlu mengubah strategi partisipasi dari strategi kekuasaaan ke strategi edukasi atau fasilitasi. Selain itu perlu serta perumusan ketentuan perjanjian kerjasama antara pengelola proyek RHL dengan kelompok pelaksana RHL, yang menjamin keberlanjutan status lokasi penanaman, pemeliharaan tanaman, dan keberlanjutan pendampingan kelompok tani.

"Pada strategi edukasi diperlukan fasilitator yang intensif, sehingga pengelola proyek RHL perlu bekerja sama dengan pihak lain seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, divisi Corporate social Responsiblity (CSR) atau Community Development perusahaan, serta petugas penyuluh pertanian setempat," pungkas Fike.***Endah Rusnaryati (ER)