Peneliti dan Struktural Harmonis, Litbang Pasti Bisa Eksis

BPPTPDAS (Solo, 03/08/2017)_Litbang akan bisa eksis dan ada, apabila fungsional peneliti dan struktural atau manajemen terdapat hubungan yang saling harmonis dan mendukung. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Ir. Garsetiasih, MP., anggota Tim Penilai Peneliti Instansi (TP2I) Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian Lingkungan HIdup dan Kehutanan (KLHK) pada saat memberikan arahan pada acara pembinaan jabatan fungsional peneliti di Ruang RApat 1 Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (BPPTPDAS), Kamis (03/08).

Gastiarsih menyadari posisi fungsional peneliti sangat penting di litbang. Fungsional peneliti seperti prajurit yang siap tempur untuk menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Tetapi, apabila tidak didukung dengan struktural atau manajemen, prajurit akan tumbang. Apabila hal ini terjadi maka litbang akan mati atau tidak ada.

“Dukungan manajemen terutama top level manajemen sangat diperlukan dalam menjembatani penilaian fungsional peneliti oleh LIPI. Apabila pemimpin (level atas) sering koordinasi maka LIPI akan memberikan respon yang baik dan akan siap membantu dan mendukung kita. Jangan sampai yang datang hanya level bawah, pasti LIPI juga tidak greget melayani kita,”kata Gastiarsih.

Gastiarsih memberikan contoh visitasi TP2I oleh LIPI. Ada perbedaan persepsi penilaian TP2I BLI-KLHK dengan TP3 LIPI yang awalnya mencapai 11,22%. Nilai yang sangat tinggi atau lebih dari 10. Dan ini bisa mengancam akreditasi TP2I-BLI-KLHK. Dengan dukungan dan koordinasi yang kuat antara TP2I dan manajemen BLI, serta LIPI akhirnya perbedaan itu bisa diturunkan menjadi 8,23%. Bahkan hasil visitasi bisa mencapai 99%. Nilai visitasi tertinggi di Indonesia.

Contoh lain, masa pimpinan dahulu atau Prof. San Afri Awang, Beliau berani door to door ke Eselon 1 KLHK lainnya untuk memaksa anggaran penelitian di Eselon 1-KLHK untuk diberikan atau dikerjasamakan dengan BLI. Hal ini berdasarkan tupoksi bahwa BLI merupakan lembaga yang berwenang dan mempunyai tupoksi untuk melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan. Selain itu, juga selalu berkoordinasi dengan Eselon 1 KLHK untuk memakai produk BLI dengan menyesuaikan kebutuhan di KLHK.

“Peranan manajemen sangat penting dalam mendukung peneliti. Semoga manajemen (terutama top level) paham dengan peneliti, Kalau tidak maka litbang akan bubar,”tegas Gastiarsih.

Gastiarsih berharap manajemen untuk selalu mendukung peneliti terutama dalam penilaian fungsional peneliti. Manajemen diharapkan tahu aturan fungsional peneliti oleh LIPI sehingga bisa mendukung angka kredit peneliti. Disadari, saat ini peneliti mempunyai ruang gerak terbatas dalam mengumpulkan angka kredit karena adanya anggaran yang terbatas.

“Misalnya prosiding seminar tidak boleh keluar pada waktu yang sama. Harus ada jeda minimal 3 atau 6 bulan. Ini menunjukkan ada proses editor ataupun review. Apabila tidak ada jeda waktu maka nilainya tidak ada.,”kata Gastiarsih.

Gastiarsih juga mengingatkan dalam prosiding harus jelas metodenya. Judul dalam pembuatan buku juga harus dipertahankan. Misal buku dengan judul petunjuk teknis, mempunyai nilai kecil sehingga sebaiknya dihindari atau kreatif dalam memilih judul buku.

Pada akhir acara, Gastiarsih menyatakan hubungan harmonis antara peneliti dengan manajemen atau struktural seharusnya bisa diwujudkan. Harus ada yang mendorong hal tersebut. Peneliti senior harus aktif untuk memberikan masukan. ***