Hadapi Krisis Mata Air, BPPTPDAS Diseminasikan 15 Pohon Pelindung Mata Air

BPPTPDAS (Solo, 19/08/2017)_Untuk membantu menghadapi krisis mata air di Indonesia, terutama di Solo Raya, Dr. Nur Sumedi, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) mengajak kepada seluruh media untuk membantu menyebarkan 15 jenis pohon pelindung mata air yang telah ditemukan oleh Tim BPPTPDAS.

“Hasil kajian ini bisa tersebar luas dan bermanfaat menjadi salah satu solusi untuk kondisi mata air karena kualitas dan kuantitas semakin menurun. Hasil ini tidak hanya tersebar di Kementerian tetapi juga Pemda. Jangkauan kami akan tertolong dengan media,”kata Nur Sumedi saat memberikan sambutannya pada konferensi pers “15 jenis pohon pelipelindung mata air” di Kantor BPPTPDAS Solo, Rabu (16/08).

Pada kesempatan tersebut, Nur Sumedi menyatakan bahwa kondisi mata air di Solo Raya sudah mulai kritis. Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir (2006-2016 telah terjadi penurunan mata air sebanyak 47% atau 198 mata air, yaitu pada tahun 2006 sebanyak 421 mata air menjadi 223 mata air di tahun 2016.

“Setiap tahun kekurangan 10 mata air itu termasuk dalam kondisi kritis. Apabila tidak ditangani dengan serius akan menimbulkan masalah besar,”kata Nur Sumedi.

Lebih lanjut, Nur Sumedi menyatakan salah satu solusi untuk mengatasi krisis tersebut adalah dengan menggiatkan masyarakat untuk menanam dengan pohon yang dipercaya bisa mengatasi kekeringan ataupun bisa menghidupkan kembali mata air yang ada.

Terkait hal tersebut, Tim BPPTPDAS yang terdiri dari Dody Yuliantoro, Siswo dan Bambang D.A., telah menemukan 15 jenis pohon pelindung mata air yaitu aren, gayam, kedawung, trembesi, beringin, elo, preh, bulu, benda, kepuh, randu, jambu air, jambu alas, bambu, serta

“Kajian/informasi tersebut berdasarkan pengalaman langsung di lapangan atau pelaku. Untuk meningkatkan efektifitas perlindungan mata air, proses penanaman seyogyanya dilakukan dengan pemilihan jenis pohon dan lokasi penanaman yang tepat,”kata Dody Yuliantoro, salah satu tim dan presenter pada acara tersebut.

“Penanaman untuk merawat mata air dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu penanaman di sekitar titik mata air (radius 10 – 15 m) sebagai spring protection dan penanaman di area imbuhan air tanah (recharge area) sebagai springshed protection,”ungkap Dody.

Di Sisi lain, Ir. Yuliarto Joko Putranto, M.AP., Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai (PEPDAS), Ditjen PDASHL-KLHK, menyatakan apresiasi atas temuan 15 jenis pohon pelindung mata air tersebut.

“Informasi ini sangat pas (saat ini lagi musim kemarau dan banyak wilayah terjadi krisis air/mata air) dan memberikan harapan baru. Kita bisa melakukan kegiatan menanam 15 jenis pohon ini dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mata air,”ungkap Yuliarto.

“Hasil penelitian ini akan bermanfaat. Buku ini akan disosialisasikan ke teman-teman daerah untuk dikembangkan. Pengembngan ini tidak mudah. Perbenihan harus kita siapkan, teknik pembibitan juga disiapkan. Kalau ini kita lakukan secara simultan, mudah-mudahan tidak terjadi kekeringan,”kata Yuliarto.***

Informasi Lebih Lanjut:

Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS (BPPTPDAS)

Website : http://dassolo.litbang.menlhk.go.id atau http://balitekdas.org

Jl. Jend. A. Yani Pabelan Kotak Pos 295, Surakarta 57012, Telp. 0271 - 716709, Fax. 0271 – 716959

Link Download Buku

Buku “Pohon Sahabat Air” direvisi menjadi Buku “15 Jenis Pohon Pelindung Mata Air” dapat diunduh di

- http://dassolo.litbang.menlhk.go.id/penelitian/publikasi/tahun/2016/unduh/814/Pohon-Sahabat-Air

- http://balitekdas.org/penelitian/publikasi/tahun/2016/unduh/814/Pohon-Sahabat-Air

- http://www.forda-mof.org/content/publikasi/post/648