Dengan Tradisi & Religi,Masyarakat Girimulyo mampu menjaga Potensi Mata Air

BP2TPDAS (Solo, 14/09/2017)_Kebutuhan air semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Bahkan dengan adanya cuaca ekstrim, banyak wilayah di Indonesia yang mengalami kekeringan dan sulit untuk mendapatkan air yang bersih dan berkualitas. Hal ini berbeda dengan daerah Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Girimulyo, Pendoworejo dan Purwosari. Potensi mata air di daerah tersebut tetap terjaga meskipun musim kemarau panjang.

"Masyarakat Kecamatan Girimulyo mengenal istilah budaya bersih mata air (nguras sumber) dan sedekah mata air dalam bentuk sesaji. Budaya tersebut bermaksud menjaga kelestarian sumber mata air," kata Sudarmadji yang dikutip pada artikelnya pada Jurnal Penelitian Pengeloalaan Daerah Aliran Sungai (JPPDAS) Vol 1 No 1 April 2017.

Dalam artikelnya tersebut, Sudarmadji menyatakan bahwa masyarakat Kecamatan Girimulyo masih kental akan nuansa tradisi dan religi dalam budaya masyarakat. Faktor ini bisa menjadi kunci untuk pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air yang ada.

"Pengelolaan sumberdaya air berbasis teknologi pada penerapannya membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Strategi yang bersifat sederhana dan mudah diterapkan menjadi penting untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya air terpadu, yaitu berbasis perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,"tegas Sudarmadji

Lebih lanjut, Sudarmadji menyatakan bahwa pengelolaan sumberdaya air terpadu perlu diterapkan untuk menjaga keberlanjutan sumber air sehingga tidak kekeringan pada musim kemarau atau kebanjiran pada musim hujan.

Diketahui pada wilayah Girimulyo mempunyai topografi berupa perbukitan sehingga ketersediaan sumber air sangatlah terbatas sehingga masyarakat sangat mengandalkan mata air sebagai sumber utama dalam pemenuhan kebutuhan air.

"Masyarakat lebih mudah dan murah dalam memanfaatkan air dari mata air daripada air tanah yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit," kata Sudarmadji

"Saat ini, di wilayah Girimulyo terdapat 24 mata air yang tidak pernah mengalami kekeringan dan bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat Girimulyo baik pada musim kemarau dan musim penghujan. Debit mata air berdasarkan pengukuran di lapangan berkisar 23 liter/detik," tambah Sudarmadji.

Dalam artikelnya, Sudarmadji menyatakan untuk menjaga potensi air pada mata air di wilayah Girimulyo, masyarakat terlibat langsung dalam merawat dan memperhatikan mata air dengan melakukan konservasi mata air. Kegiatan tersebut dilakukan dalam dua bentuk, yaitu konservasi secara fisik dan non fisik.

Konservasi mata air secara fisik diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur pelindung berupa pagar tembok pengaman. Bentuk konservasi fisik berupa pagar tembok pengaman Konservasi fisik bertujuan untuk melindungi kualitas air mata air dari ancaman binatang liar dan memberikan rasa aman terhadap masyarakat terutama anak-anak dan lanjut usia yang menggunakan air.

Konservasi mata air non fisik diwujudkan dalam budaya nguras sumber dan syukuran mata air. Konservasi non fisik bertujuan untuk menjaga kuantitas dan kualitas air mata air secara pendekatan spiritual dan emosional masyarakat agar memanfaatkan air secara bijak.

Pada akhir artikelnya, Sudarmadji menyatakan bahwa tkonservasi mata air berbasis tradisi dan religi yang diterapkan pada di wilayah Girimulyo bisa diterapkan di wilayah lain, asalkan mempertimbangkan budaya masyarakat setempat dan besar debit mata air.