Untuk Mencapai Akreditasi, Pengelola OJS Harus Cermat dan Optimis

BP2TPDAS (Solo, 29/09/2017)_Jurnal terakreditasi merupakan impian bagi lembaga yang menerbitkan jurnal. Untuk mencapainya bukanlah usaha yang mudah. Perlu kerja keras dan ketelitian. Jurnal yang sudah terakreditasi, pada saat pengajuan kembali, statusnya bisa tetap terakreditasi ataupun tidak terakreditas begitupun sebaliknya. Ini bukanlah hal yang mustahil. Oleh karena itu, Pengelola jurnal atau Open Journal System (OJS) haruslah cermat dan tetap optimis.

Hal ini diungkapkan oleh Mukhammad Nurul Furqon, S.S., Kepala Sub Bidang Akreditasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat diundang menjadi narasumber di BAlai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP2TPDAS) di Solo, Rabu-Kamis (27-28 September 2017).

"Untuk mencapai akreditasi, yang terpenting adalah terindeks pada Scopus atau minimal Directory of Open Access Journals (DOAJ)," kata Furqon.

Furqon menjelaskan bahwa indeksasi DOAJ masih diakui oleh dua lembaga penilai akreditasi jurnal yaitu Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan LIPI. Bahkan Kemenristekdikti dan LIPI mendorong agar jurnal Indonesia terindeks di DOAJ nkarena DOAJ ini termasuk dalam indeks menengah atau sedang tetapi sifatnya hidup, open access dan tidak berbayar.

"Berdasarkan data per 29 Agustus 2017, peringkat Indonesia di DOAJ berada pada posisi 3 dunia, di bawah Brasil dan Inggris. Sebanyak 912 jurnal di Indonesia telah terindeks di DOAJ,‚ÄĚkata Furqon.

Namun Furqon menyayangkan bahwa jurnal yang diterbitkan dari lingkungan PT/Universitas lebih dominan dari Kementerian/Lembaga (K/L). Peringkat 1-30 yang terindeks DOAJ didominasi oleh jurnal PT/Universitas. Begitu juga, jurnal yang terindeks di Scopus masih didominasi dari PT/Universitas.

"Dari 32 jurnal Indonesia yang terindeks scopus, hanya ada satu jurnal dari K/L. seharusnya jurnal terbitan K/L harus lebih berkualitas, accessible, dan visible supaya dapat bersaing denganjurnal terbitan PT/Universitas," kata Furqon.

"Solusinya, penuhi standar akreditas, pengelolaa e-journal, terindeks di lembaga pengindeks bereputasi," tambahnya.

Selanjutnya, pada kesempatan tersebut, Furqon memberikan tips dan trik agar jurnal yang diterbitkan oleh BP2TPDAS atau Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (JPPDAS) mencapai akreditasi. Selain itu, Furqon juga memberikan saran dan masukan untuk terbitan JPPDAS pada edisi berikutnya. Sedangkan pada hari kedua, Furqon mengajak tim pengelola JPPDAS untuk melakukan simulasi atau evaluasi terhadap JPPDAS. Hasil simulai menunjukkan bahwa JPPDAS mencapai nilai 64,5 atau belum mencapai akreditasi karena untuk mendapat akreditasi minimal mencapai nilai 70.

"Hasil ini hanyalah simulasi. Jangan pesimis, karena ada beberapa nilai atau aspek yang belum dioptimalkan. Yang penting terbiatan dua tahun terakhir karena umumnya penilaian dilihat dari dua tahun terakhir," kata Furqon.

"Selain itu, ada hal-hal teknis yang bisa dikejar untuk menutupi substansi. Salah satunya adalah indeksasi atau sitasi," sarannya.

Kegiatan yang hanya dihadiri oleh Tim Pengelola JPPDAS ini bertujuan untuk menambah wawasan pengelola JPPDAS terhadap pengelolaan jurnal, terutama dari aspek substansi serta mengevaluasi JPPDAS dalam rangka mencapai akreditasi pada tahun 2018/2019. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, Tim Pengelola JPPDAS lebih semangat dalam mengelola JPPDAS. ***