Hati-Hati Menyebarkan Berita di Media Sosial

BP2TPDAS (Solo, 04/10/2017)_Adanya perkembangan internet telah melahirkan media sosial (medsos). Media yang praktis, efisien dan efektif dalam menyebarkan berita atau informasi. Bahkam media ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang promosi produk-produk litbang. Namun, sebaiknya dalam pemanfaatannya, pengguna haruslah berhati-hati dan cermat dalam memilih dan menyebarkan berita.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. Nur Sumedi, Kepala Balai Litbang Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP2TPDAS) pada saat memberikan arahan pada rapat rutin bulanan yang dilaksanakan di Ruang Rapat BP2TPDAS Solo, Senin (2/10).

"Sekarang banyak berita hoax. Kita harus cermat dan berhati-hati. Kita telaah dan cermati dahulu. Apabila belum yakin kebenarannya, kita coba untuk tidak menyebarkan," Imbau Nur Sumedi.

Nur Sumedi menyadari banyak pengguna medsos yang langsung copy paste berita atau informasi, padahal belum tahu kebenaran informasi tersebut. Terkadang berita yang disebarkan merupakan berita negatif yang mengintimidasi atau memihak sepihak.

Pada kesempatan lain, Muhammad Rofiudin, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Jawa Tengah, yang menjadi narasumber dalam acara Pembahasan Pembentukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Herper Hotel, Mangkubumi Yogyakarta, Selasa (26/09) menyatakan bahwa adanya internet menimbulkan beberapa media yang efisien dan efektif menyebarkan informasi.

"Dampak internet menyebabkan kita saling berhubung. Dulu, kita hanya konsumsi informasi, sekarang menjadi produsen informasi. Kita bisa menyebarkan informasi layaknya jurnalis," kata Rofiudin.

Menurut Rofiudin, salah satu media yang populer saat ini adalah media sosial (medsos) baik berupa facebook, twitter, instagram, youtube, maupun whatapps. Media tersebut dipilih karena biaya terjangkau, jumlah dan karakteristik pengguna (terhubung kapanpun dimanapun), dampak besar karena komunikasi horisontal, serta merupakan media penularan atau media wabah artinya setiap orang bisa menyebarkan tanpa syarat.

"Adanya perkembangan internet atau medsos bisa mnimbulkan peperangan informasi di medsos. Hal ini disadari karena informasi yang ada sebetulnya multitafsir, sehingga kadang penafsiran setiap orang terhadap informasi yang ada berbeda-beda,"kata Rofiudin.

Untuk mengatasi hal tersebut, Rofiudin menyarankan apabila menerima informasi di medsos, sebaiknya selidiki dahulu kebenaran informasi tersebut, kalau benar dan bermanfaat maka silahkan disebarkan. Apabila meragukan atau tidak benar dan tidak bermanfaat maka jangan disebarkan.

Pada akhir sesi, Rofiudin menyarankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mendorong penyebaran informasi melalui medsos, terutama informasi terkait gerakan/aktivitas/kegiatan (pra acara, pas acara, serta pasca acara), capaian prestasi (individu/institusi), manajemen isu, serta klarifikasi.

"Sebaiknya informasi publik yang disebarkan tersebut harus faktual, akurat dan aktual," tutupnya. ***